172 views
November 5, 2019

Akselerasi Peran Pemuda dalam Meningkatkan Kepedulian Sosial di Era Digital

By ferryaldina

Latar Belakang

Rizki Mubarak, anak kecil yang duduk di kelas 2 SD tersebut harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap penyakit Torticollis. Penyakit Tortikolis diyakini berkembang ketika kelainan sirkuit dalam sistem saraf memicu proses biokimia yang menghasilkan defisit neurologis. (Medical Disability Advisor, 2019) Kejadian bermula ketika Rizki kecil yang berusia 8 bulan mengeluhkan rasa sakit namun penyakitnya belum dapat didiagnosa oleh dokter di RSUD Indramayu, Jawa Barat.

Memasuki usia 8 tahun, perubahan fisik Rizki tampak dengan benjolan besar di pipi bagian kanannya. Rizki yang tinggal dengan neneknya -setelah ayah dan ibunya bercerai- terpaksa menahan rasa sakit tetapi sayangnya neneknya enggan untuk membawanya berobat karena keterbatasan ekonomi.

Nasib Rizki kian tidak terarah setelah mendapati neneknya tutup usia. Akhirnya Ia dibawa bersama ibunya untuk tinggal di Desa Babadan, Indramayu, tidak jauh dari tempat tinggal neneknya. Karena rumahnya yang dekat dengan penulis maka terbesitlah ide untuk melakukan penggalangan dana sosial atau social fundraising melalui lembaga filantropi Rumah Zakat.

9 April 2017 adalah awal mula kami, penulis bersama istri, melakukan penggalangan dana di platform “sharing happiness” milik Rumah Zakat. Tidak hanya satu platform, tetapi kitabisa.com menjadi ikhtiar kami lainnya untuk membantu kesembuhan Rizki dari dana yang dikumpulkan para donator. Tidak disangka sebulan lamanya ternyata dana yang terkumpul lebih dari 122 juta. Angka yang terbilang fantastis karena donasi sebanyak itu bisa terhimpun hanya dalam waktu satu bulan saja dengan lebih dari 700 donatur.

Dari sanalah penulis mendapatkan pelajaran penting bahwa digitalisasi filantropi memberikan efek yang luar biasa untuk membantu masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangan.

Dampak positif yang ditimbulkan dari filantropi digital sangat luar biasa tetapi bukan berarti ada tantangan yang harus dihadapi. Sedikitnya ada tiga permasalahan yang bisa menjadi pokok pembicaraan dalam esai ini, antara lain :

  1. Bagaimana peran pemuda dalam gerakan filantropi modern untuk menciptakan pembangunan sosial,
  2. Bagaimana peran pemuda dalam membentuk kepedulian sosial untuk kedermaan karitas yang berkesinambungan, dan
  3. Solusi untuk menciptakan keadilan sosial sebagai perwujudan filantropi modern

PEMBAHASAN

Eksistensi teknologi sudah merambah ke berbagai sektor, tidak terkecuali dengan filantropi. Platform digital mulai bermunculan manakala digitalisasi dianggap bisa mempercepat kemajuan suatu instansi. E-commerce, fintech, social platform, health start up, dan digital philanthropy adalah segelintir bukti bahwa semua sektor harus terintegrasi dengan teknologi. Jika tidak mengikuti kemajuan zaman maka pilihannya adalah tergerus oleh zaman.

Secara historis, filantropi sudah melekat dengan bangsa Indonesia. Bahkan baru-baru ini, CAF World Giving Index 2018 menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara paling dermawan di dunia. Bentuk kedermawanan, kemurahatian, ataupun sumbangan sosial sudah dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai contoh pada tahun 1912, Muhammadiyah sebagai salah satu pencetus gerakan filantropi di Indonesia, berhasil membuat program-program dan fasilitas di bidang pendidikan dan sosial. Berkat gerakan filantropinya, Muhammadiyah berhasil membangun ribuan sekolah, universitas, rumah sakit, dan panti asuhan, dan lembaga sosial lainnya

Kemiskinan dan ketidakadilan sosial menjadi dasar utama gerakan filantropi tumbuh di Indonesia. Rasa cinta untuk membantu sesama menjadikan filantropi sebagai jembatan antara si kaya dan si miskin. Filantropi pada masanya menjadi program karitas dari berbagai lembaga yang menghimpun dana untuk agenda sosial. Filantropi seperti itu lazim disebut filantropi tradisional.

Seiring berkembangnya zaman, filantropi tradisional berinovasi menjadi filantropi modern atau filantropi berkeadilan sosial. Bukan hanya penggalangan dana tetapi adanya pendampingan berkelanjutan sehingga masyarakat bisa berdaya dan mandiri. Berdasarkan National Committee for Responsive Philanthropy dan Social Justice Philanthropy bahwa praktik filantropi dikatakan berkeadilan sosial jika memenuhi empat kriteria, yaitu :

  1. Memiliki target menghilangkan akar permasalahan penyebab kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan sosial,
  2. Memiliki program jangka panjang, memberdayakan dan berkelanjutan,
  3. Menggunakan pendekatan kemanusiaan yang non diskriminatif dan bersifat inklusif,
  4. Memiliki manajemen yang transparan, akuntabel, dan responsif dalam melakukan grantmaking.

“Reducing poverty and inequalities remain a key area of UNDP’s work.” UNDP Indonesia

UNDP atau United Nations Development Programs merupakan organisasi paling besar di antara organisasi-organisasi khusus PBB dan memiliki peranan besar untuk negara-negara berkembang. Pada September 2015, Executive Board of UNDP menyetujui Country Programme for Indonesia selama periode 2016 – 2020. UNDP mendukung Indonesia dalam menghadapi SDGs atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan adalah salah satu dari lima program yang menjadi fokus UNDP.

Pada dasarnya tujuan gerakan filantropi adalah mengurangi kemiskinan dengan program yang berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan lain-lain. Tentu ini sejalan dengan UNDP dan juga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Pemerintah Indonesia.

Penulis pun berkesempatan untuk terjun dalam kegiatan filantropi yang diadakan oleh salah satu lembaga sosial di Bandung. Program seperti pemberian dana usaha yang disertai pembinaan kepada pedagang UMKM, pemberian training of trainer kepada praktisi pendidikan di pedesaan, dan penyuluhan tentang komposting kepada desa binaan. Aktivitas tersebut tergolong dalam gerakan filantropi modern karena sifatnya berkesinambungan.

Teknologi sangat membawa dampak positif terhadap pergerakan filantropi di Indonesia. Seperti pada kasus Rizki Mubarak, penulis mencoba memanfaatkan teknologi supaya misi sosial tersebut bisa berhasil. Ratusan donator berhasil tergerak hatinya untuk mengirimkan bantuan. Kegiatan digital crowdfunding seperti ini sangat efektif mengingat dana yang dibutuhkan sangat banyak.

Pemuda, Filantropi, dan Kepedulian Sosial

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pasal 1 ayat 1, “Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.” Inspirator bangsa kita, Bung Karno pernah mengatakan “Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tapi seorang pemuda mampu mengubah dunia!.”

Sejatinya siapapun yang termasuk usia pemuda, maka ia memiliki tanggung jawab moral atas dua hal. Pertama untuk masa depan dirinya. Kedua, untuk masa depan bangsa. Jangan salahkan siapa-siapa jika Indonesia belum bersaing di beberapa tahun mendatang. Bisa jadi pemudanya tidak peduli dengan permasalahan bangsa dan belum adanya kepedulian sosial yang tumbuh dalam dirinya. Sehingga apa yang dilakukan pemuda saat ini sangat menentukan bagaimana Indonesia dalam lima tahun mendatang.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) pada tahun 2018, menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta jiwa dari 264,16 juta penduduk Indonesia. Lebih dari 64% penduduk Indonesia sudah mengakses internet. Lebih jauh lagi, generasi milenial mendominasi pengguna internet Indonesia.

Pengguna internet usia 15-19 tahun mempunyai penetrasi paling tinggi (mencapai 91%). Kemudian disusul dengan usia milenial lainnya 20-24 tahun yang menduduki ranking teratas dengan penetrasi 88,5%. Dibawahnya masih tergolong kelompok umur milenial 25-29 tahun dengan penetrasi 82,7%.

Pemuda milenial jangan terlena dengan indahnya dunia digital. Tantangan pemuda milenial adalah bagaimana memanfaatkan teknologi menjadi sebuah aksi nyata. Semakin meningkatnya penetrasi pengguna internet di kalangan milenial bukan malah membuat pemuda menjadi mager (malas gerak). Justru inilah peluang untuk membangkitkan semangat kepemudaan melalui teknologi.

Ketika penggalangan dana menjadi mudah berkat bantuan teknologi maka tugas selanjutnya adalah menciptakan program yang kreatif dan berkelanjutan. Pemuda dituntut bukan hanya sebagai agent of crowdfunding tetapi juga agent of developing. Sudah saatnya pemuda turun ke lapangan dan melihat kondisi masyarakat secara langsung.

Berbicara tetapi filantropi kreatif, maka penulis berkaca pada organisasi filantropi asal Australia yang sudah melakukan program kreatif dan ber-filantropi. The Man Cave, organisasi independen yang bertujuan untuk mengurangi epidemi gangguan kesehatan mental dan depresi pemuda.  Good Pitch Australia, sebuah ajang yang menghubungkan film-film dokumenter berorientasi sosial yang akan berdampak pada masyarakat. Dan Genashitm, perusahaan penyedia jasa infromasi dan teknologi yang 90% karyawannya adalah penyandang disabilitas.

Peran pemuda sangat sentral dalam membentuk komunitas atau gerakan filantropi di Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah menggerakan pemuda lainnya untuk sama-sama bergerak di dunia sosial. Peluang bagusnya adalah bisa menciptakan wirausaha sosial yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Program-program kreatif dari filantropi luar negeri bisa menjadi acuan dan menjadi pembeda dengan gerakan filantropi pada umumnya.

Dunia maya tentu tidak boleh ditinggalkan karena disanalah pemuda mudah ditemukan. Aktifitas dunia maya sangat didominasi pemuda milenial dan inilah sarana terbaik untuk menjaring jiwa sosialnya. Kegiatan kemanusiaan, relawan bencana, trauma healing, dan kegiatan sosial lainnya bisa merekrut banyak orang jika memanfaatkan media sosial.

Solusi untuk menciptakan keadilan sosial melalui gerakan filantropi sangat bergantung ke semua pihak. Pemuda yang berinisiasi, masyarakat lain mendukung, dan pemerintah juga membantu kelancaran program filantropi demi terciptanya iklim sosial yang baik.

Indonesia Emas 2045 merupakan puncak dari kegiatan pemuda saat ini. Mereka yang melakuan perubahan saat ini akan menjadi pemangku kepentingan di tahun tersebut. Pasalnya Indonesia memiliki bonus demografi dimana jumlah angkatan usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 66% dan angkatan tua (usia 65+ tahun) sebesar 14%. Bayangkan jika usia produktif tersebut digunakan untuk kegiatan produktif juga. Tidak heran jika nanti Indonesia bisa menjadi pesaing utama negara-negara maju di dunia.

Oleh karena itu kesempatan berkecimpung di dunia filantropi seharusnya jangan disia-siakan oleh pemuda saat ini. Ketika kepedulian sosial sudah ditanam sedini mungkin maka Indonesia Emas bukan hanya sloga semata namun sudah menjadi kekuatan bersama. Mari bangkit pemuda Indonesia melalui filantropi!

KESIMPULAN

Gerakan filantropi yang sudah berkembang pesat dengan menggunakan teknologi harus benar-benar dimanfaatkan oleh semua pihak, terutama pemuda Indonesia. Dunia digital yang didominasi oleh pemuda milenial harus seimbang dengan kegiatan sosial di masyarakat. Harapannya adalah memupuk jiwa kepedulian sosial sehingga bisa mengurangi salah satu permasalahan bangsa, yaitu kemiskinan dan ketidakadilan sosial.

Sumpah pemuda adalah momentum bagi pemuda Indonesia untuk lebih mementingkan diri dan bangsa. Salah satu keberhasilan bangsa tergantung keberhasilan pemudanya yang berdampak pada kegiatan sosial. Peristiwa bersejarah ini penting dijadikan lecutan semangat para pemuda bangsa untuk menciptakan bangsa yang penuh akan kepedulian sosial.

Jika satu pemuda saja bisa mengubah dunia, maka apa jadinya jika semua pemuda Indonesia bisa bergerak bersama? Mari kobarkan semangat pemuda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

DAFTAR PUSTAKA

Bahjatulloh, Qi Mangku. 2016. Pengembangan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Kegiatan Filantropi. IAIN Salatiga

Buletin APJII Edisi-45 September 2019. Menuju Kemerdekaan Internet dengan Palapa Ring

CAF World Giving Index 2018, dimuat dalam laman https://www.cafonline.org/docs/default-source/about-us-publications/caf_wgi2018_report_webnopw_2379a_261018.pdf

Jusuf, Chusnan. 2007. Filantropi Modern untuk Pembangunan Sosial, dalam jurnal Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol 12, No. 01, 2007 : 74-80

Kerangka Acuan Sharing Session. Filantropi Indonesia : Mengkomunikasikan dan Mempromosikan Gerakan Filantropi Secara Kreatif

Laporan Hasil Penelitian Fenomena Praktik Filantropi Masyarakat Muslim dalam Kerangka Keadilan Sosial. STF UIN Jakarta 2018, dimuat pada laman https://www.stfuinjakarta.org/wp-content/uploads/2018/04/Laporan-Hasil-Penelitian-Riset-Filantropi.pdf

Penetrasi Pengguna Internet Indonesia tahun 2018. Data APJII

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin dalam Rubrik Opini Republika Maret 2018 dengan judul Pemerintah mendorong dan memfasilitasi tumbuh-berkembangnya lembaga filantropi

Profil Kemiskinan Indonesia Maret 2019. 2019. Badan Pusat Statistik dimuat dalam laman https://www.bps.go.id

UNDP-Indonesia Parntership For the SDGs, dalam buletin UNDP Indonesia