214 views
July 1, 2020

Cerita yang tidak mau kutulis : Sebuah Trauma Persalinan

By ferryaldina

Jujur, aku paling malas menulis cerita ini. Seolah membangkitkan amarah yang terpendam. Singa lapar yang siap menerkam mangsanya. Apalah namanya, yang jelas cerita ini cukup aku saja yang tahu.

Trauma mendalam yang membuat istriku “terluka” sampai sekarang. Tercabik-cabik sudah psikisnya dan akhirnya aku hampir tidak mengenali istriku yang sebenarnya. Namun akhirnya dengan persetujuannya, aku terpaksa membicarakan ini kepada kalian.

Aku ingin kalian jangan pernah mengalami apa yang pernah kita rasakan. Tolong, ambil hikmah dari setiap kelalaian kami, khususnya aku sebagai suami, sehingga tidak akan pernah terulang lagi kisah trauma persalinan ini kepada kalian.

Andai kalian tahu, menjadi orang tua adalah hal yang tidak pernah terbayangkan sedikit pun dalam hidupku. Mungkin begitu juga kalian. Waktu berjalan sangat cepat melebihi kecepatan motor sekelas Valentino Rossi.

Entah apa yang aku yang masih kanak-kanak atau memang naluri orang tua yang selalu menganggap seberapapun usia anaknya, kita masih dianggap anak kecil yang masih butuh perhatian mereka. Sampai detik ini, aku belum mengerti apa definisi orang tua sebenarnya. Dan mengapa mereka masih terus mengkhawatirkan kita, sedangkan kita? Sedih aku menjawabnya.

Lanjut, kita fokus ke cerita hari ini.

Kejadian besar itu diawali dengan pagi yang begitu tenang. Semilir angin subuh menyapu atmosfer bumi yang sungguh indah. Tak ada aura kemunafikan. Konon manusia seperti itu berat mengawali hari saat subuh tiba.

Sekitar jam tujuh pagi istriku mengalami pengeluaran flek ketika sedang berada di kamar mandi. Entah kenapa, dia begitu tenang seraya berkata,

“Ini ada flek darah.” Raut mukanya datar tanpa ada rasa tegang sedikit pun.

Sebaliknya aku yang mencoba simpati tanpa hati-hati berbicara,

“Ayo, Ma. Kita siap-siap ke rumah sakit.” Kataku sambil tergagap-gagap.

Entah darimana rasa tegang bercampur bingung itu muncul. Sungguh aneh respon yang diberikan istriku malah luar biasa tenang.

“Iya, tenang aja kok. Biasa ini mah.” Jawabnya dengan sangat super tenang.

Berangkatlah kita menuju rumah sakit terdekat, tempat dimana kita biasa control kandungan, tempat dimana kita mempercayakan persalinan. Dua jinjingan berukuran sedang dan besar, persis seperti akan mudik, sudah disiapkan.

Jarak yang tidak sampai 20 menit membuat kita tidak terlalu bergegas. Tetapi entah apa yang merasukiku kala itu, barang bawaan yang begitu berat langsung disimpan di bagian depan motor. Aku pun langsung tancap gas bersama istri dan calon buah hati.

Setibanya di rumah sakit, aku menuju ruang persalinan. Tidak perlu mengantri lagi, sesuai anjuran dokter ketika sudah mulai akan melahirkan tidak usah daftar dulu.

Dan setelah melihat suasana di persalinan. Kalian tahu apa? Kami kaget luar biasa ternyata ruangan persalinan di rumah sakit itu mirip ruangan rawat inap yang dihuni oleh sekitar 7 sampai 8 orang. Bahkan lebih sempit.

Aku tidak tahu standar rumah sakit untuk pasien kelas dua itu nyatanya seperti itu atau hanya rumah sakit itu saja yang mempunyai standar seperti itu. Bodohnya aku yang tidak survei terlebih dahulu ke tempat persalinan.

Bayangkan jika pada saat bersamaan ada 5 pasien yang akan melahirkan. Jeritan yang kencang akan membuat pasien lainnya terganggu, istriku pun menjadi sedikit ciut.

Jika memang seperti itu ruangannya mungkin aku tidak memilih tempat bersalin yang lain. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mudah-mudahan bubur ini sudah matang dan enak disantap. Realitanya sungguh pahit bro.

Tetap sabar mendengarkan ceritaku.

Sejak pembukaan satu sampai tiga, istriku berjalan-jalan di lorong rumah sakit. Intensitas gelombang cinta atau kontraksinya belum mulai terasa masif. Olahraga kecil itu sangat membantu untuk ibu hamil.

Perawat berulang kali menyarankan untuk tiduran saja. Entah apa tujuannya tapi kami patuh saja. Membosankan tiduran lalu duduk, minum seperlunya. Ya begitulah. Apalagi tes yang memasukan jari-jari suster untuk mengecek pembukaan berapanya. Sakit dan perih pastinya.

Ya Allah sedih rasanya. Padahal katanya gak disarankan mengecek terlalu sering seperti itu.

Pembukaan demi pembukaan semakin dilewati. Pelukan dan cengkeraman istri semakin kuat. Menahan rasa sakit yang semakin intens datang setiap menit. Ibaratnya kita sangat kebelet ingin buang air besar tetapi harus ditahan. Bagaimana rasanya? Ini lebih dari itu kata istriku. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Adzan Maghrib berkumandang, aku pun pergi ke basement untuk menunaikan salat. Setelah kewajiban dilaksanakan, langsung beranjak kembali ke ruangan persalinan. Disinilah kejadian besar itu dimulai.

Dokter yang biasa menangani kehamilan istri sudah berada di tempat. Dua suster sudah siaga di samping dokter. Alat pengecek detak jantung bayi tepat berada di ujung kaki istriku. Saat itu pembukaan sudah memasuki pembukaan sepuluh.

Tiba-tiba dua tas bawaanku disingkirkan oleh salah satu bidan. Kedua kakinya memindahkan tas ke bawah ranjang persalinan.

“Ini ganggu banget!” bidan nyeletuk dengan ekspresi wajah kisut.

Istriku kaget, aku pun sama. Tidak disangka sikapnya sebagus itu. Belum sampai disitu, aku yang inisiatif membantu istri ke atas ranjang pun disuruuh menghindari istri dan cukup di samping istri saja.

“Bapak di bawah aja. Gak usah di atas ranjang.” Padahal kami sudah sepakat untuk membuat posisi itu. Kami terinspirasi dari kisah persalinan teman. Suaminya membantu sampai-sampai menahan dan memegang kepala si istri.

Buyar sudah rencana itu setelah bidan itu melarang apa yang kita perbuat.

(MAAF BERSAMBUNG)

Bekasi, 1 Juli 2020 09.56 PM