Alhamdulillah masih bersama saya dan terima kasih kepada teman pembaca setia blog ini. Seperti cerita sebelumnya dimana saya sudah lulus TES ELPT ITB dengan skor di atas standar yaitu 90. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang bagaimana pengalaman saya mengikuti Tes Potensi Akademik atau disingkat TPA.

Sesuai dengan judulnya, saya memang murni atas izin Allah mendapatkan nilai 550. Mungkin kalian pernah mengikuti tes TPA dan lebih dari saya. Saya salute! Keren kalian! Tapi bagi saya nilai ini merupakan keajaiban pasalnya saya tidak belajar menghadapi tes yang saya kira bakal mudah. Tapi TERNYATA SUSAH! Susah bagi saya yang tidak belajar.

Tujuan saya mengikuti tes TPA adalah sebagai pelengkapan persyaratan untuk daftar sekolah pasca sarjana ITB. TOEFL dan TPA itu syarat MUTLAK, Sisanya ENGGAK! Kenapa? Nanti deh bakal saya share tentang pengalaman TES AKADEMIK TEKNIK KIMIA ITB.

Kembali ke tes TPA, sebelumnya saya beli dulu buku latihan soal TPA yang tebalnya ratusan halaman dengan target skor 677. Wow banget kan? Sayangnya saya belajar itu gak move on. Di halaman itu-itu aja belajarnya. Halaman mana? Itu halaman pertama tentang kiat-kita sukses menghadapi tes numerik. Lieur euy! Gelo pisan lah! Otak saya tiba-tiba jadi tumpul seketika dan saya putuskan meninggalkan bab itu. Akhirnya beberapa hari selanjutnya tidak disentuh lagi tuh yang namanya buku TPA.

Oya, buat kalian yang belum tahu Tes TPA itu dibagi tiga bagian, Tes Verbal kayak sinonim, antonim, padanan kata, dan sejenisnya. Lalu Tes Numerik itu seperti deret, hitung cepat, soal cerita, dan sejenisnya juga. Terakhir, Tes Penalaran isinya tentang logika, gambar, dan sejenisnya juga deh. Kalian bisa baca di blog sebelah. Hehe

KENAPA TES TPA tidak di ITB saja?

Ceritaku dimulai ketika akan dimulai tes TPA IPB. Sebenarnya saya mau tes di ITB. Tapi karena telat bayar, jadinya saya cari yang lebih dekat. Saya tes di Kampus Pasca Sarjana IPB. Kalau di ITB, jumlah pesertanya lebih dari 450 orang (saya lihat daftar peserta di website ITB) sedangkan di IPB hanya 45 orang (saya lihat absenan kalau ini mah). Hehe

Biar mentalnya gak down mendingan jangan di ITB deh. Kenapa? Kebanyakan woy orangnya! Mana bisa konsen. Haha Saya beruntung banget bisa tes dengan sedikit orang.

Lanjut deh kebanyakan cing cong. Pembaca juga bosen denger cerita ente, Fer! Ok ok deh kalau begitu. Let’s cekidot!

Singkatnya saya sudah di ruangan tes. Posisi saya tepat di paling depan dan berjarak sepuluh jengkal di depan pengawas utama. You can imagine, bro? Yes saya bertetangga dengan baik dengan pengawas. Saya sih biasa aja karena niatnya juga tes kemampuan bukan nyontek. Jadi selow aja jangan jadikan beban. Cukup Fisika aja yang punya beban. Haha

TES VERBAL

Tes Verbal itu saya tidak mengalami kesulitan. Kebetulan semalamnya saya belajar verbal. Ya, belajar verbal saja tidak belajar yang lain. Karena mudah belajarnya. Hanya menghapal kata dan siap-siap jawab kalau pertanyaannya sama dengan yang saya pelajari.

Kalian tahu, kan? Soalnya beda banget sama yang dihapal! Alhasil, ya saya jawab aja dengan bismillah dan percaya diri bin yakin. 90 soal tes verbal bisa dihabiskan kurang dari satu jam.

TES NUMERIK

Lanjut ke tes yang kedua, yaitu tes numerik. Intinya sih tentang matematika. Niat awalnya saya kira mudah nih buat tes selanjutnya. Karena saya pasrah dengan tes verbal yang sedikit ngasal hanya bermodalkan bismillah itu. Bener-bener gak tau jawaban yang bener yang mana. Ternyata Tes Numerik lebih GILA! Buat saya yang gak belajar itu berat banget! Yes, bayangkan pas bagian pertama itu tes hitung cepat. Kayak gini 2355,875 ; 4148,125 = … Coba berapa jawabannya?

Lieur, Brother! Coba kalau belajar dulu. Pastinya tahu tuh 0,875 itu pecahan berapa dan 0,125 itu pecahan berapa jadi lebih mudah pengerjaannya dan lebih singkat.Disanalah waktu saya habis digunakan. Setengah jam mengerjakan soal hitung cepat dan ternyata jadi hitung lama.

Langsung pindah ke bagian deret. Itu pun yang hitung cepat hanya 10 soal saja saya kerjakan karena wasting time banget. Ternyata deretnya LEBIH GILA BRO! Namanya juga gak belajar ya pasti GILA lah! Kenapa? Deretnya itu beda. Maksudnya polanya baru. Entah kenapa gak bisa mikir waktu itu.

Lima soal dilewati, lanjut ketemu satu soal selanjutnya saya jawab. Selang seling jawabnya dan akhirnya saya putuskan pindah selanjutnya ke bagian selanjutnya karena waktu saya terbuang hampir setengah jam menentukan pola deret. INTINYA KELAMAAN MIKIR. Haha

Nah ada dua atau tiga bagian lagi yang harus dikerjakan di tes numerik tersebut. Tiba-tiba terdengar dari tetangga (baca : pengawas)

“Waktunya tinggal 10 menit lagi!”

Seketika langsung KAGET SEKAGET-KAGETNYA! Lihat lembar jawaban yang masih kosong melompong. Dari 90 soal itu ada 40 soal mungkin yang masih kosong. Pokoknya kalau diterawang itu kelihatan banget yang belum dijawab.

Saya langsung bingung itu. Saya langsung mikir ini bagaimana jawabnya? Dari sanalah saya berdoa. Ya Allah saya pengen masuk ITB. Tolong mudahkanlah saya menjawab pertanyaannya. Bismillah dan akhirnya saya sedikit demi sedikit saya menjawab soal bagian deret. Ya, bagian deret saja mugkin 20 soal atau kurang. Saya lupa lagi. Jangan ditanya sisanya. Saya menjawab tanpa melihat soal. Tolong jangan ditiru ya! Hikzz

TES LOGIKA

Nah, habis berjuang di tes numerik. Selanjutnya adalah tes penalaran. Kalian bakal bertemu dengan tes logika, gambar, gambar tiga dimensi, bacaan, dan sisanya tes logika premis kesimpulan seperti itulah. Alhamdulillah disanalah saya lancar mengerjakan tes logika. Senang sekali rasanya setelah berjibaku dengan soal tes numerik. Lalu bertemu tes logika yang membuat saya bisa santai-santai tanpa menghitung. Alhamdulillah banget. Hehe

Beres deh dan Alhamdulillah perjuangan tes TPA sudah berakhir.

Tes TPA ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa melewati pendidikan di pasca sarjana. Dari sana saya langsung berpikir. Saya belum layak kayaknya. Hanya bermodalkan doa, saya meminta kepada Allah untuk hasilnya lebih dari standar 475.

Keajaiban pun terjadi, tiga hari setelah tes saya dapat email dan sudah terdapat nilai TPA. Saya pun awalnya tidak mau download tapi penasaran juga. Antara nilai yang memalukan atau menggembirakan. Hehe

PENGUMUMAN HASIL TPA

Pas saya lihat format excelnya, nilai saya lebih dari 550! Saya langsung bilang ALHAMDULILLAH YA ALLAH. Ini murni dari Allah. Beneran deh, saya ulangi lagi, ini murni dari Allah. Allah menggerakan tangan saya menjawab dengan benar dan memenuhi standar.

Dari sanalah saya terharu, sebegitu baiknya Allah. Benar saja apa yang difirmankan Allah dalam Al Quran di ayat yang sangat popular

“MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN”

QS 55:55

Saya malu sekali mendapat nilai yang tinggi menurut saya. Karena diluar ekspektasi saya. Dan saya malu karena Allah memberikan kebahagiaan ketika saya masih kurang beribadah kepadaNya.

Sedih Akutuh!

Semoga bermanfaat guys!

Share dong pengalaman kalian ikut TPA.

CERITAKU DAPAT NILAI TPA 550 BERMODALKAN DOA
Tagged on:

2 thoughts on “CERITAKU DAPAT NILAI TPA 550 BERMODALKAN DOA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *