14 views
June 16, 2020

Cinta Sejati Saat Pandemi

By ferryaldina

Kita sedang beradaptasi di tengah badai covid-19. Kondisi ini “memaksa” kita harus bekerja dari rumah. Seiring berjalannya waktu mulailah istilah work from home atau WFH menjadi populer saat pandemi covid-19 menghantam negara kita tercinta. Banyak orang yang harus menyesuaikan diri dengan sistem kerja yang baru, padahal biasanya mereka menghabiskan waktu 8-9 jam di luar rumah.

“We are all not in the same boat but in the same storm”

Rasika Dugal

Kita tahu bahwa covid-19 menimbulkan dampak luar biasa kepada semua pihak. Artis kenamaan India, Rasika Dugal, menyebutkan jika kita sedang berada dalam badai yang sama meskipun perahu yang kita tumpani berbeda-beda. Ungkapan yang seketika viral tersebut membuat kita sadar bahwa kita harus melewati badai ini bersama-sama.

Bagi yang harus bekerja dari rumah, maka bersyukurlah. Setidaknya bisa menahan diri untuk tidak keluar rumah jika tidak ada urusan penting. Virus yang sudah menyebar ke 215 negara ini harus dihadapi dengan kedisiplinan diri.

Berkegiatan di rumah memang tidak mudah. Bagaimana menghabiskan waktu selama 24 jam dalam satu tempat. Memang terkadang mirip penjara. Tapi ketika berlama-lama di rumah, saya justru menemukan banyak hal yang baru disadari selama ini.

Jika berkenan mari lanjutkan cerita saya.

Menemukan Hakikat Keluarga

Perubahan jam kerja di pabrik membuat saya lebih banyak di rumah. Ya, saya seorang buruh pabrik. Hanya berangkat kerja 2-3 hari dalam seminggu, sisanya saya di rumah. Selama 4-5 hari itu sungguh sangat membosankan.

Bayangkan sebelum pandemic ketiak berangkat kerja, ada gawai yang senantiasa menemani kemanapun kita pergi. Dalam transportasi umum, menunggu bus jemputan, berdesak-desakan di commuter line, dan hiruk pikuk rutinitas harian lainnya. Seolah bisa menggantikan peran keluarga kita.

Sejurus kemudian gawai sudah menjadi anggota keluarga secara tidak langsung. Dia terbilang spesial karena bisa menuruti apa yang kita kehendaki. Selama diberikan “makan” yang banyak, dia akan menjadi sempurna.

Parahnya ketika kebiasaan “dating with gadget” terbawa ke rumah saat pandemi maka situasi di rumah tidak akan terkendali. Pekerjaan rumah terbengkalai, Anak kurang perhatian, pasangan pun teracuhkan. Apalagi Ramadhan kemarin menjadi tidak produktif karena terlalu asyik dengan gawai.

Kemudian saya sadar bahwa kemanapun kita pergi ada permata yang menunggu, ialah keluarga. Sejauh apapun kita pergi ada kesetiaan sejati yang menanti. Akhirnya saya sadar bahwa selama ini ada hakikat keluarga yang hilang dan ditemukan saat pandemi. Ini bukan tentang kebahagiaan sesaat seperti gawai tetapi keluarga adalah kebahagiaan yang kekal dilandasi fundamental yang kuat.

Saya pun mencoba kembali membangun ikatan emosional yang kuat dengan istri dan anak. Mulai dari saling mengingatkan untuk tidak main gawai ketika makan bareng. Sejujurnya alam bawah sadar kita selalu memerintahkan anggota tubuh kita agar senantiasa menggunakan gawai. Itu karena kita sudah kecanduan dengan gawai.

Saya terenyuh ketika melihat anak. Ia tidak butuh ayah yang bergelimang harta tapi mereka lebih butuh perhatian seorang ayah. Saya pun menyempatkan selalu bermain dengan anak. Mulai dari masak-masakan, berain boneka, membaca buku, dan banya lagi. Senyum simpul terlihat dari wajahnya. Dia senang ayahnya selalu berada di rumah.

Menulis sebagai Terapi

Memiliki banyak waktu di rumah adalah sebuah tantangan tersendiri. Terlena dengan waktu dan diisi dengan bermalas-malasan akan membuat kita tidak produktif. Banyak orang yang memanfaatkan waktu luangnya untuk meningkatkan skillnya, seperti editing video, latihan musik, praktik bahasa inggris, dan banyak lagi.

Jika saya bergantung dengan satu pekerjaan, katakanlah menjadi buruh pabrik. Maka pandemi merubah mindset saya bahwa sewaktu-waktu kita bisa benar-benar “dirumahkan”. Lalu saya memilih untuk mengisi waktu di rumah dengan menulis. Bagi saya menulis adalah pemanfaatan waktu di sisa-sisa waktu keluarga. Tidak mungkin saya menulis ketika anak mengajak bermain. Tidak mungkin juga saya duduk di depan laptop padahal istri ingin diajak ngobrol. Ya, salah satu waktu yang tepat untuk menulis adalah waktu ketika anak istirahat.

Biasanya saya menggunakan waktu sehabis salat subuh dan menjelang tidur malam. Saya harus pastikan semua anggota keluarga terlelap tidur. Supaya tulisan saya bisa maksimal dan waktu saya pun menjadi produktif.

“Kenapa suka menulis? Karena futsal tidak boleh.”

Saat pandemi tidak mungkin untuk berkegiatan di luar ruangan. Jadi saya memilih menulis diantara kedua hobi saya tersebut.

Menulis bisa membuat saya bahagia. Bahagia bisa merampungkan tulisan. Bahagia bisa dibaca orang lain. Termasuk saya sangat senang tulisan ini sedang Anda baca. Terima kasih ya, teman!

Blog adalah “lapak” saya untuk menulis. Entah untuk menulis curhatan, opini, atau untuk mengikuti lomba blog. Yang pasti saya harus menulis. Menulis adalah terapi untuk memulihkan kembali pikiran yang sudah semrawut. Rasanya nyaman memainkan kalimat demi kalimat meskipun kadang ngacapruk tidak berarturan.

Entah disadari atau tidak. Mau hobinya apapun itu. Jika terlena dengan banyaknya waktu luang maka dia akan menjadi manusia yang tidak berguna. Terbunuh oleh waktunya sendiri.

Disinilah terletak ujian produktifitas. Masa-masa stay at home adalah waktu dimana kita harus bijak memilih mana kegiatan yang bisa membuat kita bermanfaat bukan terus menerus rebahan. Rebahan boleh, asalkan sebagai relaksasi. Dengan begitu julukan generasi rebahan tetap melekat di dalam diri. Jika generasi rebahan tidak memberikan perubahan mungkin namanya harus diganti menjadi generasi malas-malasan. Semoga kita tidak seperti itu.

Keajaiban itu Bernama Buku

Dalam bukunya Prof. Renald Kasali, menyebutkan bahwa kebanyakan orang hanya bisa bertahan maksimal 4 menit untuk tidak membuka gawainya. Bayangkanlah itu kedekatan kita dengan gawai. Adakah yang bisa mengalahkan kedekatannya? Saya rasa tidak. Jika ada, berarti Anda manusia langka, patut dilestarikan.

Saya menulis artikel ini pun kadang terdistract dengan gawai yang setia menunggu di samping laptop. Diam tapi tetap menggoda. Maka ini perlu serius dalam manajemen gawai. Kalau perlu simpan jauh-jauh di tempat yang bisa dijangkau supaya kita bisa maksimal melakukan sesuatu.

Saya punya pengalaman menarik dengan gawai. Bagaimana saya bisa melepaskan anak dari gawai. Setiap balita memiliki potensi untuk tantrum. Jika keinginan mereka tidak bisa tercapai karena sudah menjadi candu maka dia akan mengeluarkan emosi dengan mimik wajah yang cukup seram. Itulah yang terjadi dengan anak saya.

Awalnya saya berpikir jika gawai adalah alternatif menenangkan anak ketika saya dan istri sedang bekerja. Tatkala pekerjaan kita sudah beres, gawai pun segera diambil. Apa yang dia lakukan? Muka yang merah langsung dipasang ke hadapan kita, jeritan sekuat tenaga dilepaskan sampai memekikkan telinga. Sungguh tidak terduga dan kami kewalahan untuk menenangkannya.

Kami pun berusaha sekuat tenaga tidak lagi memberikan gawai dengan ALASAN APAPUN. Apakah mudah? Sangat berat di awal. Salah satu triknya adalah mengalihkan perhatian ke maianan. Alhasil, kami membelikan mainan yang lumayan banyak. Mulai dari masak-masakan, dokter-dokteran, buku cerita, bahkan kami membelikan buku yang banyak. Apapun caranya supaya dia lupa dengan gawai.

Suatu ketika istri saya lupa untuk menyimpan gawai di tempat khusus. Anak saya tentu bisa melihat gawai yang sudah tergeletak di ruang tamu. Ajaibnya dia malah anteng membuka satu demi satu buku yang ada di rak. Semua buku dia khatam dan sama sekali mengabaikan gawainya.

Apa yang saya rasakan selama di rumah adalah keberadaan cinta sejati yang harus selalu dipupuk. Adakalanya kita berkegiatan di luar rumah, tapi beristirahat di rumah. Rumah bukan hanya tempat melepas penat, ia adalah sumber cinta yang kuat. Menerangi setiap insan untuk memancarkan energi kasih sayang untuk disebarkan kepada seluruh umat.

Tak ada yang sia-sia selama di rumah. Mungkin wabah ini menegur kita untuk selalu memperhatikan keberadaan keluarga. Karena disanalah kita menemukan cinta sejati.

Terima kasih

Salam