Desa Masa Depan

Rindu akan suasana desa kembali memuncak. Kesejukan, keasrian, dan kecanggihannya ingin kembali kurasakan. Rencananya aku akan mengambil cuti untuk berlibur ke desaku, namanya Desa Masa Depan. Aku sudah memesan tiket kereta express jauh-jauh hari dan berangkat dari Stasiun Kota menuju Stasiun Desa Masa Depan.

Kereta express berkecepatan 300 km/jam melesat cepat membawaku menuju tempat tujuan. Kereta dengan gerbong bercorak batik dengan balutan warna merah putih itu sungguh menakjubkan. Kecepatannya yang menyamai “Shinkansen” ini sudah lama beroperasi hampir di seluruh kota di Indonesia.

Semenjak arus teknologi informasi semakin masif, kemajuan desaku berkembang pesat. Digitalisasi Desa berdampak positif untuk kesejahteraan masyarakat desa pada umumnya. Jika bukan karena teknologi mungkin desaku masih tergolong desa tertinggal.

Ayahku yang seorang petani merasakan manfaat luar biasa dari teknologi. Kartu tani sudah terintegrasi dengan aplikasi ponsel pintar. Barcode yang terletak di kartu tersebut memudahkan para petani untuk memilih benih unggul, mengamati perkembangan tanaman tiap jamnya, menganalisa potensi panen, sampai pada pemasaran ekspor pun tersedia lengkap.

Kenapa petani bisa go digital? Ini memang buah dari kesabaran para pakar yang beberapa tahun lalu mengajari petani di desaku. Gebrakan “Ilmuwan Masuk Desa” menjadi awal kebangkitan desaku. Saking canggihnya, orang-orang mengenal desaku sebagai Desa Masa Depan. Padahal nama asalnya adalah Desa Singaparna.

Para ahli teknologi informasi, teknologi aplikasi, teknologi pangan, pakar pendidikan, dan ahli ekonomi pun semua turun gunung setelah mendapat arahan langsung dari Presiden Jokowi. Beliau memberikan instruksi untuk mengembangkan sebuah Desa Super Modern. Baik dari segi ketersediaan pelayanan dasar, infrastruktur, transportasi, pelayanan umum, dan penyelenggaran pemerintahan yang semuanya harus berbasis teknologi.

Berkat teknologi, petani di desaku sudah melampaui target pencapaian panennya. Hasil panen yang melimpah dan berkualitas ekspor membuat kesejahteraan masyarakat desa berlimpah. Setelah pertanian sukses, sektor perkebunan terkena cipratan manisnya.

Perkebunan di Desa Masa Depan mengandalkan sistem hidroponik yang dipadukan dengan akuaponik. Paralon bekas yang berada di masing-masing rumah warga dijadikan media tanam untuk berbagai macam tanaman buah dan sayuran. Ada yang menanam cabai, kunyit, terong, sawi, jahe, dan aneka tanaman lainnya. Pupuk yang digunakan pun memakai pupuk kompos yang dibuatnya dari lubang resapan biopori setelah memanfaatkan sampah organik dari rumah tangga.

Sistem akuaponik adalah kelanjutan dari teknologi hidroponik. Tanaman memanfaatkan unsur hara dari kotoran ikan yang dapat menjadi racun bagi ikan jika dibiarkan dalam kolam. Kemudian tanaman tersebut berfungsi sebagai filter vegetasi yang akan menguraikan zat racun menjadi zat yang tidak berbahaya bagi ikan, dan juga suplai oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara ikan.

Pusat Teknologi Hidroponik dan Akuaponik tepat berada di samping rumahku. Tempatnya seperti gedung laboratorium tapi kami menyebutnya sebagai “Ruang Belajar”. Ilmu yang didapat dari para pakar teknologi budidaya tanaman diaplikasikan langsung oleh masyarakat desa. Sehingga hasil belajarnya terlihat dari makin banyaknya kreativitas warga di Desa Masa Depan.

Teknologi sangat berperan dalam kemajuan Pendidikan Desa Masa Depan. Jam belajar dikurangi yang awalnya tujuh jam menjadi hanya empat jam. Tiga jam sisanya digunakan untuk mengasah bakat siswa di bidang sains. Berkat bantuan teknologi dan bimbingan praktis, siswa bisa memperluas wawasan dan mengasah diri sesuai minat dan bakatnya. Bukan hanya unggul dalam bidang akademik sekolah tetapi juga handal di level olimpiade.

Fasilitas sekolah pun sangat modern. Aula sekolah disulap menjadi ruang belajar kreatif siswa dengan ditunjang internet yang super cepat. Pojok-pojok diskusi dilengkapi dengan meja panjang layaknya tempat rapat. Perpustakaan digital melengkapi khazanah keilmuan sekolah-sekolah di Desa Masa Depan. Setelah sistem Ujian Nasional dihapuskan, para siswa tidak mengkhawatirkan nasib kelulusannya. Mereka fokus pada cita-cita mereka sehingga tidak heran banyak yang berhasil masuk perguruan tinggi top dunia.

Sektor kesehatan tidak luput dari perhatian pemerintah kepada Desa Masa Depan. Fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit dibuat dalam satu bangunan menjulang tinggi. Layanan kesehatan Puskesmas jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Peralatannya lengkap dan canggih hampir menyamai rumah sakit beberapa tahun ke belakang.

Jika perlu melakukan tindakan lebih lanjut tidak usah repot-repot ke Rumah Sakit yang jaraknya berjauhan. Tinggal menaiki lift dan sampailah di Rumah Sakit Masa Depan. Penanganan yang memerlukan ketelitian dan beresiko tinggi pun dialihkan ke pihak Rumah Sakit. Mengenai biaya tidak jadi masalah karena semuanya gratis. Sumber dananya berasal dari TAKEMADES (Tabungan Kesehatan Masyarakat Desa). 5% dari hasil pendapatan dari bekerja (Bertani, berkebun, berternak) disisihkan untuk kesehatan. Sistem gotong royong seperti ini menjadi upaya preventif dari masyarakat desa.

Namun upaya utama yang ditekankan adalah pola hidup sehat. Angka stunting hampir nol persen di Desa Masa Depan. Gizi anak pada seribu hari pertama terpenuhi dengan baik. Sayuran dan buah-buahan tidak sulit mencarinya karena setiap rumah memiliki kebun sendiri. Ketika pencegahan menjadi prioritas maka angka kesehatan masyarakat meningkat.

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Masa Depan bisa bersaing dengan SDM dari luar negeri. Setiap rumah memiliki minimal anak yang memiliki gelar dari perguruan tinggi asing. Lulusan-lulusannya dituntut untuk berbakti kepada desa selama beberapa tahun sambil mengkader para generasi selanjutnya. Sehingga estafet kemajuan desa bisa dilanjutkan.

Ada yang membangun infrastruktur energi, seperti penerapan biogas dari kotoran ternak. Pemanfaatnya secara langsung untuk kebutuhan rumah tangga. Ada yang membuat laboratorium penelitian tanaman untuk meningkatkan kualitas tanaman berstandar internasional. Ada yang menata ulang infrastruktur air bersih dan sanitasi dengan memanfaatkan air pegunungan yang kemudian bisa digunakan sebagai penggerak turbin pembangkit listrik. Ada lagi yang membuat “Silicon Valley Desa Masa Depan” yang mengembangkan wirausaha UMKM dan bibit-bibit startup dari Desa Masa Depan.

Semenjak jalan-jalan diperbaiki, aksesibilitas menjadi lebih mudah dari daerah ke daerah lainnya. Kerapatan aspal jalan yang kokoh dan perawatan yang rutin membuat jalanan di Desa Masa Depan terlihat sangat baik. Pedestrian pun lebih lebar dan terdapat akses untuk disabilitas dalam berjalan menyusuri trotoar.

Semua kemajuan yang didapat dari Desa Masa Depan tidak terlepas dari momentum kebijakan Presiden Jokowi setelah dilantik menjadi Presiden Indonesia periode 2019-2024. Ini buah dari proses panjang dan keuletan para pihak terkait untuk mengembangkan Desa Masa Depan. Inilah yang membuatku bangga menjadi anak desa. Seperti halnya misi ketiga Presiden Jokowi, yaitu “Pembangunan yang merata dan berkeadilan” sangat sinkron dengan Nawacita ketiga, yaitu “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka kerja negara kesatuan.”

Target RPJMN 2015-2019 untuk pembangunan desa dan Kawasan pedesaan memang sudah tercapai dengan berkurangnya desa tertinggal dan bertambahnya desa mandiri. Namun jika bisa lebih ditingkatkan levelnya pada lima tahun berikutnya – katakanlah target utamanya adalah Desa Modern – maka Desa Masa Depan bukan cuma cerita fiksi belaka.

Bayangkan saja jika lebih dari 80 ribu desa menjadi maju, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara yang disegani di dunia. Mari semangat membangun desa dan dukung terus program pemerintah yang memperkuat desa dan daerah-daerah di Indonesia.

Terima kasih sudah membaca cerita dan harapan saya untuk Indonesia.

Desa Masa Depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *