218 views
June 30, 2020

Dua Garis Kejantanan

By ferryaldina

“Kok belum berhasil, ya?
Sebelum melanjutkan tulisan ini, pastikan Anda tergolong pembaca dewasa ya. Hehe

Rasanya hampir setiap insan yang baru menikah ingin sekali mendambakan buah hati. Apalagi jika tahun pertama pernikahan menjadi tahun program kehamilan.

Wah itu mah resep pisan lah. Semangat menggebu-gebu demi calon bayi yang ditunggu-tunggu. Ada harap ada cemas. Semua bercampur aduk dalam perasaan yang kompleks.

Jelas, rasa khawatir sering muncul ketika ternyata mendapatkan kabar dari istri,

“Mas, aku dapet.” pesan whatsapp yang membuyarkan harapan.

Pernah mengalami seperti itu? Sebagai laki-laki wajar kecewa karena usahanya belum berhasil. Hehe

Lebih dari itu, laki-laki pun merasa wah jangan-jangan aku tidak subur. Naudzubillah pikiran itu selalu terlintas. Padahal apa yang sudah digariskan pasti sesuai takdirNya.

Tugas kita mah ikhtiar, cukup itu saja selebihnya biar Allah yang mengatur. Judging seperti itu malah membuat kita kecewa dan malah berpikiran kemana-mana.

Aku pun begitu bahkan sempat menangis. Aku tersungkur dalam sujud, sengaja berlama-lama untuk meminta ampunan dari Sang Maha Pengampun.

Mungkin apa yang menjadi penghalang hadirnya buah hati gara-gara dosa yang pernah diperbuat di masa lalu.

Mungkin rasa pesimis yang muncul gara-gara hati yang selalu meninggi.

Mungkin apa yang menjadi penyebab kegelisahan ini gara-gara selalu menuhankan ikhtiar.

Introspeksi dan introspeksi. Selalu seperti itu sampai suatu titik dimana kita hanya berpasrah menjalankan perintahNya sesuai tuntunan Nabi. Sisanya tinggal berdoa.

Jika memang kami dipercaya untuk segera memiliki keturunan, mudahkan kami menjaga dan mendidiknya. Jikalau belum waktunya, jadikan kami termasuk orang yang selalu bersyukur.

Aku masih ingat ketika selepas salat Subuh harus mengantarkan buku pesanan. Buku itu adalah buku antologiku yang dibuat bersama teman-teman Forum Lingkar Pena Bekasi. Aku sangat berkesan karena hari itu akhirnya ada yang beli karyaku.

Tiga puluh menit jarak dari kontrakan ke rumah Pak Holil, aku masih ingat namanya. Aktivis yang mempunyai anak kembar itu berbaik hati membeli karyaku yang belum seberapa.

Dengan perasaan yang bahagia, aku menembus keramaian jalanan kota Bekasi. Maklum subuh itu cukup ramai karena banyak karyawan yang hendak pergi bekerja. Motor-motor saling memberikan klakson tanda buru-buru mengejar kereta arah Jakarta.

Setibanya di rumahnya, Alhamdulillah disambut dengan baik dan bukuku pun siap disantap. Terima kasih banyak, Pak!

Tiba-tiba gawai di kantong celan bergetar. Terlihat dua gambar strip biru diterima yang buram, entah fokusnya yang kurang bagus atau memang tangannya gemetaran.

“Ini beneran, Bi?” Dulu aku dipanggil Abi tapi sekarang dipanggil Aba.

Sontak langsung aku telepon istri,

“Beneran umi ini teh?” dulu uma dipanggil umi.

“Gak tahu. Ya tadi aku langsung cek aja.” kata istri.

Aku tidak bisa berkata-kata. Rasanya bercampur aduk senang bahagia tapi sedikit percaya. Kenapa tidak percaya? Karena ketika sudah berpasrah kepada kehendak-Nya ternyata, “hadiah” itu hadir juga di kehidupan nyata. Menurutku, rezeki yang tidak bisa disangka-sangka.

Alhamdulillah Ya Allah. Sepanjang perjalanan pulang aku merasa menjadi seorang yang paling bahagia di dunia ini. Speedometer terus naik, tarikan gas sudah mentok. Ingin rasanya aku keluarkan jurus menghilang ala Naruto.

“Alhamdulillah ya, Mi.” pelukan hangat langsung diberikan setibanya di rumah.

Kita benar-benar tidak menyangka atas hadiah di pagi hari ini. Pukul enam pagi, aku masih ingat, menjadi saksi waktu munculnya berita gembira yang datang ke dunia kami.

Tapi.

Tapi.

Tapi.

Kehamilan pertama ini menjadi pemantik trauma persalinan istriku. Aku tidak akan bahas tentang bagaimana kami melewati hari demi hari menuju momen persalinan. Banyak sekali kesalahan yang aku perbuat.

Yang pasti nanti aku bakal sharing bagaimana seharusnya merawat, menjaga, dan memimpin istri selama kehamilan dan persalinan.

Udah dulu ya. Sorry menggantung. Hehe

#BaiknyaSuamiBacaIni