256 views
December 27, 2019

Kemilau Dua Bintang Telaga Murni

By ferryaldina

Tabuhan rebana terdengar bergemuruh. Sorak sorai ibu-ibu semakin menambah semarak acara di perumahan RW 05 Telaga Murni. Bapak-bapaknya pun tidak mau kalah heboh. Mereka saling berebut menjabat tangan Pak Sunyoto dan Pak Rohdian. Ucapan selamat mengalir deras kepada keduanya. Pasangan emas itu disambut bak pejuang yang datang dari medan pertempuran.

Acara sederhana ini memang dipersiapkan sedari pagi. Meja-meja disusun rapi membentuk huruf “U”. Hidangan nasi tumpeng tersaji dan diletakkan persis di tengah susunan meja. Aneka buah-buahan pencuci mulut disimpan dalam keranjang kecil terbuka. Tiga kotak besar minuman buah seukuran dispenser pun semakin melengkapi hidangan sambutan itu.

Semua yang dilakukan warga sontak membuat mata Pak Rohdian dan Pak Sunyoto mengharu biru. Luapan rasa gembira bercampur sedih memuncak dalam dadanya. Mereka disambut seperti tamu agung. Padahal apa yang sudah dilakukan sejak tujuh tahun lalu itu semata-mata  ikhlas tanpa mengharap balasan.

Acara sambutan untuk Dua Bintang Telaga Murni (dok. Pribadi)

Bekasi, Desember 2012 : Sebuah Langkah Mengubah Arah

“Saya menyadari bahwa hal yang paling mendasar dalam mencintai lingkungan adalah minatnya. Sehingga ketika minatnya sudah tumbuh maka mindsetnya otomatis akan terbentuk. Ketika mindset-nya terbentuk maka pengelolaan lingkungan menjadi mudah dan semua akan termotivasi” Pak Rohdian bercerita tentang awal mula menggerakkan masyarakat RW 05 Telaga Murni.

Pak Rohdian menganalisa apa yang menjadi sebab lingkungannya tidak tertata baik. Mulai dari sampah yang berserakan, jalanan berlubang, dan sanitasi yang bermasalah. Jangankan untuk mempercantik lingkungan, untuk menata halaman rumahnya menjadi asri pun tidak terpikirkan oleh warga. Krisis mencintai lingkungan hidup mengawali langkahnya untuk menjadikan Telaga Murni sebagai Kampung Hijau.

Bermula dari tekad yang kuat disertai dengan rasa cintanya terhadap lingkungan, Pak Rohdian mengajak warganya untuk memiliki minimal tiga pot tanaman di masing-masing rumahnya. Ternyata gayung belum bersambut. Intruksi tidak serta merta langsung menjadi aksi. Warga tidak terlalu menggubris himbauannya.

Semenjak diamanahi sebagai Ketua RW, banyak gebrakan ide pengelolaan lingkungan hidup yang disampaikan. Namun tidak sedikit warga yang mencibirnya. Nada pesimis banyak dilontarkan warga. Ada yang berkata mimpinya terlalu besar lah dan ada pula yang meremehkan komitmennya. Minimnya dukungan warga saat itu menjadi kendala semua idenya tidak terlaksana dengan baik.

Pak Rohdian tidak ambil pusing dan tetap fokus pada mimpi besarnya. Ia menjadikan rumahnya sebagai prototype lingkungan yang asri. Beberapa pot tanaman mulai menempati sudut-sudut pekarangan rumahnya. Sedikit demi sedikit warga banyak mencontohnya, termasuk Pak Sunyoto. Dan dari sanalah keduanya mulai bersinergi. Gagasan yang dimiliki Pak Rohdian sejalan dengan pemikiran Pak Sunyoto.

Awal mula penghijauan dengan menanam pucuk merah (kiri). Mulai dari rumah dan lingkungan sendiri (kanan)
(dok. Pribadi dan dok. selvi)

Menggali ide, menemukan tantangan, dan mencari solusi adalah rutinitas kedua penggerak lingkungan itu. Setiap hari aktivitasnya terbagi dua, yaitu bekerja untuk keluarga dan bekerja untuk lingkungan. Menciptakan lingkungan bebas sampah terdengar sederhana tapi nyatanya di lapangan tidak semudah yang dikira.

Pak Sunyoto dan Pak Rohdian memutuskan untuk membenahi lingkungan di RTnya terlebih dahulu. Ketika RT 02 yang dikelola oleh Pak Rohdian dan RT 05 yang diprakarsai oleh Pak Sunyoto semakin baik pengelolaan lingkungannya. Maka kemudian banyak yang mencontohnya meskipun tidak serta merta berubah secara menyeluruh.

“Yang penting kita kasih contoh dulu. Sebenarnya timbulnya kendala itu karena belum ada contohnya. Ketika sudah terlihat hasilnya maka lakukan pendekatan. Katakanlah di RT sebelah kenapa belum bisa? Apa kendalanya? Maka kita lakukan pendampingan.”ujar Pak Sunyoto.

Perlahan tapi pasti sebagian warga RT lain mulai bergerak. Ada yang berkreasi dengan mengecat pot-pot tanaman dan digantung di atas pagar rumahnya. Ada juga yang menjadikan ember bekas, botol, dan celana jins sebagai media tanamnya. Tong-tong sampah pun tidak luput dari kreasi warna warni yang menarik.

Kreasi media tanam dari celana jins, botol bekas, plastik, dan ban bekas (dok. Pribadi)

Selang empat tahun berlalu, tepatnya tahun 2016, kedua aktivis lingkungan itu menyadari bahwa mereka butuh tim untuk mewujudkan cita-citanya. Maka terbesitlah pikiran untuk membangun suatu Komunitas Pecinta Lingkungan. Lalu mereka menemui perwakilan tiap RT untuk diajak bergabung. Akhirnya berdirilah Komunitas MAPELA TM 05 atau Masyarakat Peduli Lingkungan Asri Telaga Murni RW 05.

Tantangan adalah Kesempatan

MAPELA membawahi 8 RT yang berada di wilayah RW 05 Telaga Murni. Terdapat 750 kepala keluarga atau lebih dari 2.100 warga yang perlu dibina oleh Pak Rohdian beserta pengurus. Tentu bukan pekerjaan mudah jika harus mengatur ribuan warga sebanyak itu. Ada pertanyaan yang mengusik saya kenapa mereka berdua bisa mampu merubah mindset ribuan orang tersebut?.

“Kalau memikirkan ribuan pasti stress dan nantinya kita bakal down dengan sendirinya. Oleh karena itu saya breakdown. Saya sederhanakan gagasan besar saya tentang lingkungan kepada setiap warga. Setiap rumah kan memiliki halaman tidak kurang dari lima meter. Nah itu saja yang harus mereka urus. Tidak susah kan? Kalau sudah semuanya bergerak maka lingkungan pun menjadi bersih dan asri dengan serentak” sahut Pak Rohdian.

Pengurus adalah duta lingkungan di setiap RT-nya. Tatkala mereka komitmen untuk mengelola lingkungannya dan memulai dari diri sendiri maka hasil akan mengikuti. Seiring berjalan waktu maka inovasi pun berdatangan. Warga berbondong-bondong membuat aneka pot, rambu peringatan, spanduk himbauan, dan barang lainnya yang memanfaatkan barang bekas.

Setiap RT menunjukkan progres yang baik. RT 1 melihat perkembangan RT 2. RT 3 tidak mau kalah dengan perubahan yang terjadi di RT 4. Setiap RT bersaing menciptakan lingkungan yang lebih baik dan unik. Ketika antusias masyarakat tinggi, kreativitas mulai bermunculan.

Kreasi warga membuat spanduk himbauan dan plang edukasi lingkungan dari barang bekas (dok. Pribadi dan dok. selvi)

Semakin tingginya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup maka Pak Rohdian memutar otak untuk membuat konsep baru setelah Kampung Hijau Telaga Murni telah terwujud. Tercetuslah ide membuat Kampung Literasi.

Kenapa dinamakan Kampung Literasi? Pak Rohdian menginginkan sebuah kampung yang semua warganya memiliki minat untuk terus belajar banyak hal demi kemajuan kampungnya. Visi yang diusungnya adalah menjadikan warga yang cerdas di segala bidang. Upaya untuk mencapai visi tersebut maka dibuatlah program yang bernama GEMILANG, yaitu Gerakan Minat Literasi Lingkungan Hidup.

Sejurus kemudian Pak Rohdian mendirikan pusat pembelajaran yang bernama “Rumah GEMILANG” di setiap RT. Masing-masing RT memiliki kekhasan yang berbeda. RT 1 sebagai Pusat Kebugaran Dan Seni Budaya, RT 2 sebagai Kampung Buah, RT 3 sebagai Rumah Belajar dan Sentra Hidroponik, RT 4 sebagai Sentra Wirausaha , RT 5 sebagai Taman Pelangi dan Ruang Baca Terbuka, RT 6 sebagai Kampung Ketahanan Pangan, RT 7 sebagai Pusat Budidaya Ikan Lele, dan RT 8 sebagai Pusat Kampung Toga.

Rumah Gemilang berhasil menjadi sentra belajar dan inovasi warga untuk lingkungan (dok. Pribadi)

Warganya yang guyub menjadi ciri khas RW 05 Telaga Murni. Semangat bergerak bersama dimunculkan untuk menjadikan Telaga Murni menjadi Kampung Hijau sekaligus Kampung Literasi. Kehadiran Astra di tengah-tengah masyarakat menambah warna baru di kampung yang terletak di perbatasan Bekasi-Cikarang ini.

Bekasi, Desember 2015 : Sinergi Bersama Astra

Pada akhir tahun 2015, RW 05 Telaga Murni didatangi oleh PT Yutaka Manufacturing Indonesia, anak perusahaan PT Astra Internasional yang bergerak di bidang produksi Disk Plate dan Muffler. Ibu Selvi Damayanti selaku penanggung jawab CSR PT YMI sedang mencari daerah yang akan menjadi binaan Astra. Secara kebetulan Telaga Murni adalah tempat terakhir yang dikunjungan oleh CSR PT YMI.

Konsep pengelolaan lingkungan yang sudah diterapkan oleh Pak Rohdian dan Pak Sunyoto menjadikan Telaga Murni bisa bersinergi dengan program Kampung Berseri Astra yang diusung oleh CSR PT YMI. Yang awalnya Telaga Murni hanya fokus pada lingkungan, kini mulai menggarap pilar lainnya, yaitu kesehatan, pendidikan, dan kewirausahaan.

Sampah memang menjadi masalah utama lingkungan, baik itu sampah organik ataupun anorganik. Sampah organik yang berasal dari rumah tangga adalah sumber bau menyengat. Beruntungnya di Kampung Hijau Telaga Murni, bau sudah bisa dihindari.

Melalui lubang resapan biopori dan tong komposter, sampah organik bisa dimanfaatkan sebgai pupuk kompos. Pupuk tersebut digunakan warga untuk menyuburkan tanaman hidroponiknya. Berbagai sayuran seperti jahe, sirih, kangkong, tomat, bayam, kunyit, dan sayuran lainnya berhasil dibudidayakan oleh warga.

Pupuk Kompos beserta tong komposter (dok. selvi)

Adanya sistem biopori dan komposting berawal dari program SADATASU yang digagas oleh Astra. Program SADATASU atau Sampah Dapur Tanaman Subur merupakan program pembuatan pupuk kompos skala rumah tangga. Sampah sisa makanan seperti lauk pauk, sayuran, buah-buahan, dan nasi dikumpulkan dalam kotak kecil. Kemudian dengan tambahan formula maka terjadilah proses fermentasi. Butuh waktu sekitar dua pekan untuk menghasilkan 5 liter pupuk kompos.

“Pupuk SaDaTaSu biasanya dijual Rp 25.000 per 500 ml. Alhamdulillah sampah bisa menjadi rupiah.” ujar Pak Sunyoto.

Sedangkan sampah anorganik dikelola dengan baik di Bank Sampah. Pada awalnya Bank Sampah berlokasi di samping Sekertariat RW. Bisa dibayangkan bagaimana sampah plastik, kardus bekas, alat elektronik, dan botol minuman bertumpuk-tumpuk dalam ruang yang sempit berukuran 3 x 3 meter. Belum lagi kader Bank Sampah yang kesusahan untuk memilah sampah karena keterbatasan tempat.

Namun setelah dibangun Bank Sampah yang terpisah dan lebih luas, penataannya lebih rapi dan pengelolaannya lebih sistematis. Manajemen Bank Sampah dibuat se-profesional mungkin. Mulai dari SOP, jadwal pengambilan sampah, pembuatan tabungan Bank Sampah, penjualan sampah anorganik, dan pemanfaatan dana hasil penjualannya.

BakTor atau Bak Motor pengangkut sampah dari warga RW 05 Telaga Murni (dok. Pribadi)

Biasanya setiap sepekan sekali sekali, pengurus MAPELA menjemput sampah ke tiap-tiap RT. Jika sampah sudah terkumpul maka dilakukan proses pemilahan. Sampah yang sudah terpilah dengan baik selanjutnya dilakukan penimbangan yang nantinya dihitung dan dicatat dalam buku Tabungan Sampah. Sampah pun tinggal diberikan ke pengepul dan uangnya disimpan di kas masing-masing RT.

Selanjutnya adalah peran dari Rumah GEMILANG yang sangat membantu merubah wajah RW 05 Telaga Murni. Warga belajar tentang hidroponik, akuaponik, pupuk kompos, dan penataan lingkungan. Alhasil tergeraklah ide-ide unik dari warga untuk mengelola lingkungannya.

Mulai dari budidaya ikan lele yang memanfaatkan bekas air wudhu. Lalu ada taman pelangi dan ruang belajar terbuka yang dipadukan dengan area bermain anak. Terlihat juga rambu penanda jalan, spanduk himbauan, pot-pot tanaman, taman toga, dan kreasi lainnya yang banyak ditemukan di sepanjang jalan perumahan.

Wilayah ramah anak untuk kegiatan edukatif (dok. Pribadi dan dok. selvi)
Wajah baru Telaga Murni dengan banyaknya kreatifitas warga (dok. Pribadi dan dok. selvi)

Kampung Hijau Telaga Murni yang unggul di bidang lingkungannya membuat wilayah yang berada di perbatasan Cikarang dan Bekasi ini dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba K7 antar Kampung Sehat Tingkat Kabupaten Bekasi tahun 2016. Selanjutnya pada tahun 2017 Kampung Hijau Telaga Murni menjadi tolak ukur penilaian Adipura tingkat Kabupaten Bekasi.

Lingkungan Sehat, Kesehatan Meningkat

Sasaran utama pilar kesehatan pada tahun 2019 adalah peningkatan kesadaran gizi masyarakat. Maka didirikanlah Warung Gizi. Adanya program Warung Gizi membuat Pak Rohdian menggalakkan Gerakan Menanam Sayuran Bebas Pestisida.

Konsep Warung Gizi tidak lepas dari pengelolaan lingkungan. Sayuran yang ditanam dengan sistem hidroponik harus berasal dari pupuk organik bebas pestisida. Pupuk tersebut berasal dari limbah domestik rumah tangga yang sebelumnya diolah melalui lubang biopori dan tong komposter.

Sayuran dan buah-buahan yang bebas pestisida dimanfaatkan sebagai PMT atau Pemberian Makanan Tambahan pada kegiatan posyandu.

Warung Gizi yang diterapkan di Posyandu Seroja 1B Telaga Murni (dok. selvi)

“Alhamdulillah kami membuktikan image sayuran organik mahal itu terbantahkan. Karena kami sudah membuatnya. Tidak susah dan pastinya murah kok.”tegas Pak Rohdian.

Lagi-lagi program kesehatan lainnya pun bersinggungan dengan program lingkungan. Ibu hamil, lansia, dan balita ketika hendak pergi ke posyandu dianjurkan untuk membawa sampah ekonomis dari rumahnya. Selagi kegiatan posyandu berlangsung, sebagian warga menimbang sampah dan mencatat di tabungan sampah. Uang hasil tabungan sampah tersebut dipergunakan untuk keperluan warga sendiri.

Jika dibutuhkan untuk ibu hamil maka telah dibuatkan Tabulin atau Tabungan Ibu Hamil. Ketika balitanya memerlukan sesuatu maka sudah ada Talita atau Tabungan Balita. Dan para lansia pun disediakan Tabulan atau Tabungan Lansia.

Selanjutnya kader posyandu mendapatkan penyuluhan dari Astra tentang pencatatan berbasis digital. Maka mulailah penerapan sistem iPosyandu di Posyandu yang bernama Posyandu Seroja 1B Telaga Murni. Alhamdulillah iPosyandu sangat memudahkan administrasi seputar kegiatan posyandu.

Selain itu ada Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) sebagai sarana memperluas wawasan kesehatan warga. Posyandu Lansia sebagai upaya pelayanan kesehatan kepada para lansia, Senam Jantung Sehat sebagai sarana olahraga kesehatan jantung, Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai upaya memberdayakan perilaku hidup bersih dan sehat anggota keluarga, Jumantik sebagai upaya pencegahan dari penyakit DBD khususnya, dan Forum Kader Posyandu untuk meningkatkan pengetahuan dan ajang saling berbagi informasi seputar Posyandu.

Atas segala inovasi yang telah dilakukan di pilar kesehatan, kader posyandu diganjar beberapa penghargaan yaitu,  Juara 2 Posyandu Astra tahun 2017, Juara 1 Posyandu Tingkat Kecamatan tahun 2017, Juara 3 Posyandu Tingkat Kabupaten tahun 2017, dan Juara 3 Astra Health Video Competition tahun 2018.

Pendidikan Lingkungan Sejak Dini

Ibu Selvi, CSR PT YMI, bersama kader PAUD Telaga Murni (dok. selvi)

Kecintaan terhadap lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Siswa PAUD di Telaga Murni diharuskan membawa sampah ekonomis ke sekolah. Gerakan Menabung Sampah ini merupakan bentuk edukasi kepada anak untuk peduli terhadap lingkungannya.

Pilar Pendidikan di Kampung Hijau Telaga Murni mempunyai enam sentra pembelajaran, yaitu sentra imtaq, sentra balok, sentra bahan alam, sentra seni, sentra persiapan, dan sentra bermain. Semua sentra pembelajaran didukung oleh operasional manajemen Bank Sampah. Hasil penjualan dari sampah anorganik warga digunakan untuk dana pembelajaran seperti iuran SPP PAUD, biaya kegiatan hari besar islam, dan kegiatan pendidikan lainnya.

Berkat kreativitas guru-guru, Astra memberikan apresiasi sebagai Juara Harapan 3 Lomba Kreatifitas dan Inovasi Guru PAUD tahun 2017 dan Juara 1 Lomba Karya Inovasi Guru Rumah Pintar.

Wirausaha Sosial Berbasis Lingkungan

Kerajinan tangan dari barang-barang yang sudah tidak dipakai (dok. selvi)

Sektor wirausaha juga erat kaitannya dengan pemanfaatan lingkungan. Sampah anorganik seperti koran bekas, kardus, tutup botol plastik, dan bekas sachet kopi “disulap” menjadi barang antik dan unik. Maka jadilah kerajinan tangan seperti bunga kertas, kotak tissue, briket plastik, hingga tas dari sachet kopi.

Adanya CSR PT YMI memberikan wadah kreativitas ibu-ibu PKK yang diketuai oleh Ibu Avni. Banyak program yang membantu ibu-ibu PKK untuk lebih berkarya seperti seminar pelatihan keuangan dan pelatihan kerajinan handmade.

Selain kerajinan tangan juga, Kampung Hijau Telaga Murni terdapat usaha kue kering Dewi Cookies. Adanya kegiatan pameran dan lomba dari Astra menambah pengalaman dan juga pendapatan tambahan dari usaha yang ditekuninya sejak tahun 2017. Pada tahun yang sama, usaha Dewi Cookies berhasil menyabet Juara 3 Apresiasi AKU BISA dalam program Apresiasi untuk Pelaku Usaha Kecil Binaan Astra. Ini menjadi pemantik semangat dan penular virus wirausaha kepada ibu-ibu di Telaga Murni.

Semua penghargaan di empat pilar CSR tersebut dijadikan momentum berbuat lebih banyak untuk lingkungan. Program yang selama ini dilakukan oleh Pak Rohdian dan Pak Sunyoto beserta masyarakat Telaga Murni karena atas dasar cinta dan peduli terhadap lingkungan.

Kini kegiatan kedua tokoh lingkungan Telaga Murni itu sudah banyak disibukkan dengan agenda berbagi ilmu. Undangan seminar dari sekolah-sekolah dan instansi pemerintah harus dipenuhi. Diantaranya sebagai pembicara di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam rangka “Menuju Kabupaten Bekasi Layak Anak”, pembimbing KKN Program Penerapan Lingkungan Mahasiswa Universitas Pelita Bangsa, narasumber di Rumah Sakit Karya Medika Tambun Selatan tentang Program Kecamatan Sehat, dan pembimbing lingkungan di SMAN 2 Cikarang Selatan.

Semua kegiatan yang dilakukan Pak Rohdian dan Pak Sunyoto membuat Kampung Hijau Telaga Murni diundang sebagai nominasi KBA terbaik dalam ajang KBA Innovation Awards 2010. Mulai dari persiapan sampai presentasi dilakoni kedua pejuang dari Telaga Murni itu.

“Sebenarnya apa yang kami presentasikan dalam slide power point itu tidak terlalu susah untuk diutarakan. Karena sejujurnya kami hanya berbicara apa yang sudah kami lakukan selama kurang lebih tujuh tahun di Telaga Murni.” tukas Pak Rohdian saat ditanya tentang kompetisi KBA Innovation Awards.

Cerita perjuangan empat hari di kota “Laskar Pelangi” sangat ditunggu-tunggu oleh warga RW 05 Telaga Murni. Terlebih lagi berita Kampung Hijau Telaga Murni menjadi juara dalam acara KBA Innovation Award 2019 di Bangka Belitung. Sejurus kemudian berita menyebar cepat ke seluruh warga. Kebahagiaan Pak Rohdian dan Pak Sunyoto semakin bertambah ketika Posyandu Telaga Murni pun meraih penghargaan sebagai Posyandu Terbaik Astra 2019.

Juara 2 KBA Innovation Awards 2019 dan Juara 1 Posyandu Terbaik Astra 2019 (dok. selvi)

Beruntung sekali saya bisa dipertemukan dengan kedua sosok pecinta lingkungan tersebut. Cuaca terik khas kota Bekasi tidak menghalangi antusias warga untuk hadir. Semuanya merasakan kegembiraan yang sama.

“Ini bukan karena RW-nya yang luar biasa, bukan juga Pak Sunyoto yang super. Tapi ini adalah hasil dari masyarakat yang amat luar biasa dan berdaya.” Pak Rohdian menutup acara penyambutan yang bertempat di Bank Sampah Mapela Telaga Murni (24/11/2019).

Tahun 2020 mendatang, Kampung Hijau Telaga Murni menjadi mentor untuk KBA lainnya dalam program inovasi empat pilar CSR Astra. Selain itu, kedua bintang Telaga Murni itu akan mencoba memberikan peran di sektor pemerintah melalui Dinas Lingkngan Hidup Kabupaten Bekasi. Melalui mediasi, insyaallah virus mencintai lingkungan bisa menular di Kabupaten Bekasi dan Jawa Barat.

Semoga apa yang Telaga Murni dilakukan bisa juga dipraktikkan oleh daerah-daerah lainnya. Sehingga masyarakat Indonesia bisa sehat, produktif, cerdas, dan mandiri.      

#KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik