Pesan Cinta untuk Presiden Indonesia

\“Indonesia Maju adalah Indonesia yang tidak ada satu pun rakyatnya tertinggal untuk meraih cita-citanya.” Presiden Jokowi

Tidak ada perubahan jika tidak didasari gagasan besar. Tidak ada kemajuan tanpa ada rasa kebersamaan. Berdiam diri terhadap permasalahan bangsa bukanlah solusi. Sudah saatnya kita bangkit dan berikan segenap kemampuan demi Indonesia tercinta.

Pemilu yang sangat menguras waktu, tenaga, dan emosi akhirnya telah selesai. Suka atau tidak suka, hasil pesta politik terbesar itu harus kita terima. Tidak ada tempat lagi untuk membenci. Yang ada hanya rasa cinta terhadap Indonesia..

Izinkan saya memberikan pesan cinta terhadap Presiden Jokowi. Presiden yang telah terpilih dan melanjutkan amanat memimpin negara ini pada periode 2019 sampai 2024.

Teringat visi yang diusung oleh Presiden Jokowi beserta KH. Ma’ruf Amin, “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong.”. Presiden Jokowi ingin menjadikan manusia Indonesia menjadi sumber daya yang unggul. Oleh karena itu, sedikitnya ada penjabaran 9 (Sembilan) misinya, yaitu :

1. Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia

2. Struktur Ekonomi Yang Produktif, Mandiri, dan Berdaya Saing

3. Pembangunan Yang Merata dan Berkeadilan

4. Mencapai Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan

5. Kemajuan Budaya yang Mencerminkan Kepribadian Bangsa

6. Penegakan Sistem Hukum yang Bebas Korupsi, Bermartabat, dan Terpercaya

7. Perlindungan Bagi Segenap Bangsa dan Memberikan Rasa Aman pada Seluruh Warga

8. Pengelolaan Pemerintahan yang Bersih, Efektif, dan Terpercaya

9. Sinergi Pemerintah Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan

Kini visi dan misi sudah bertransformasi menjadi program kerja. Sungguh mustahil keberhasilan program kerja tanpa adanya doa dan dukungan bersama. Mulai dari jajaran pemerintahan sampai dengan seluruh rakyat Indonesia. Indonesia maju bukan mimpi semu tapi optimisme yang harus terus kita seru. Segera tanggalkan atribut pemilu, singkirkan arogansi pilu, dan kembali fokus menuju Indonesia maju.

Berangkat dari permasalahan yang ada di Indonesia, maka pesan cinta pun akan segera saya utarakan.

Pertama, Sehat Ibu Sehat Indonesia

Dalam mencetak generasi yang modern maka sudah jelas yang diperhatikan adalah kesehatan ibu-ibu. Mulai dari saat mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik anak-anaknya sampai dewasa. Jika anak bangsa adalah bibit unggul membangun Indonesia yang kuat. Maka kesehatan ibu adalah fundamental factor dalam mewujudkan Indonesia kuat dan maju.

Mari menengok data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Prevalensi balita stunting di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 30,8%. Hal. Ini berarti 1 dari 3 balita Indonesia mengalami stunting. Indonesia memiliki presentase stunting lebih tinggi dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Vietnam tercatat dengan angka 23%, menyusul Filipina sebanyak 20%, Malaysia berkategori baik dengan 17%, dan Thailand paling baik dengan persentase sebesar 16%.

World Health Organization menetapkan batas toleransi stunting sebanyak 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Tidak heran jika WHO menyebutkan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki status darurat stunting.

Sebagai anak kampung, saya merasa terpanggil karena penderita stunting lebih banyak dari perkampungan. Kenapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya wawasan tentang stunting dan juga faktor ekonomi. Alhasil fenomena seperti sanitasi yang buruk, kebutuhan nutrisi yang kurang terpenuhi, kesadaran inisiasi menyusui dini (IMD) yang kurang diperhatikan, dan penyebab stunting lainnya bisa ditemui di pedesaan.

Menurut hemat saya, penanganan stunting harus menyeluruh dan terintegrasi. Seperti pemanfaatan dana desa untuk membangun fasilitas fiskal. Mulai dari pembangunan sanitasi air bersih, posyandu, penyediaan makanan sehat, dan yang paling penting adalah sosialisasi dan pengawasan kepada seluruh warga khususnya masyarakat ekonomi lemah.

Kedua, Olimpiade Pendidikan

Senang sekali saya bisa merasakan sekolah menengah atas di kota. Saya pun bisa mengikuti olimpiade tingkat SMA. Namun teman-teman saya di kampung tidak memiliki kesempatan yang sama seperti saya. Berbeda dengan teman-teman SMA saya di kota, mereka hampir tahu tentang olimpiade. Bahkan sudah terbiasa.

Saya sangat berharap pemerataan pendidikan untuk anak kampung. Besar harapan di kampung juga terdapat “balai” olimpiade matematika, fisika, kimia, biologi, dan pelajaran lainnya. Sampai saat ini saya belum menemukan di kampung saya balai seperti itu. Bisa jadi di kampung-kampung lainnya.

Konsepnya sederhana, menyiapkan generasi muda tingkat dasar dan menengah pertama dalam menghadapi olimpiade sains. Selain itu juga membiasakan dengan persaingan sedini mungking dan target utamanya adalah olimpiade internasional.

Sejujurnya semua orang bisa pintar dan berhasil jika sudah terbiasa dengan soal-soal olimpiade. Saya sendiri merasakan susahnya bersaing dengan anak-anak di perkotaan karena mereka sudah terbiasa dengan soal-soal yang sulit. Sehingga levelnya berbeda dengan saya yang sangat awam dan harus belajar dari nol.

Ketiga, Ilmuwan Desa

Selaras dengan ide yang kedua, saya menyarankan adanya program dari pemerintahan Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf Amin untuk memberdayakan ilmuwan ke desa-desa di Indonesia. Semua daerah di Indonesia memiliki potensi penelitian yang bisa dikembangkan. Program ini sebagai bakti para ilmuwan untuk Indonesia. Tentu dana untuk pengembangan penelitian di desa dikelola oleh pemerintah.

Sasaran utamanya adalah supaya desa-desa di Indonesia lebih maju. Setelah desa-desa berkembang pesat dengan ilmu pengetahuan maka daerah-daerah bisa lebih maju dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Setelah desa maju maka Indonesia pun tidak mustahil bisa maju.

Keempat, Trotoar di Seluruh Indonesia

Ada yang tidak dibahas pada masa kampanye Capres dan Cawapres kemarin. Baik dari kubu Prabowo atau Jokowi tidak membahas tentang fasilitas pejalan kaki. Padahal Indonesia merupakan negara paling buncit yang memiliki kebiasaan jalan kaki.

Kajian dari Universitas Stanford yang dirilis dalam jurnal Nature menyebutkan bahwa Indonesia hanya memiliki rata-rata 3.500 langkah setiap hari. Bandingkan dengan negara maju seperti Hongkong yang menempati urutan pertama dengan rata-rata sebanyak 6.800 langkap setiap harinya.

Ini bisa menjadi perhatian pemerintah lima tahun ke depan supaya bisa menjadi pertimbangan dalam membangun infrastrukturnya. Tentu pembangunan trotoar ini memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Semisal trotoar yang ramah disabilitas, lebar minimal 1,5 meter, dan ramah lingkungan.

Itulah empat harapan saya terhadap pemerintahan yang baru. Semoga setiap ide saya bisa memberikan perubahan bagi Indonesia maju. Tidak ada perubahan tanpa optimisme. Mari bersatu untuk Indonesia maju.

Terima kasih

Pesan Cinta untuk Presiden Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *