159 views
July 2, 2020

Sebuah Trauma Persalinan Part 2

By ferryaldina

Terima kasih sudah setia membaca sampai bagian kedua ini. Sebagai laki-laki saja yang tidak terlalu mudah terganggu perasaannya, merasa jengkel jika diperlakukan seperti itu. Ingin melawan keras tapi malah takut lebih terganggu psikis istri.

Di sisi lain pun aku berharap besar kepada bidan itu demi kelancaran persalinan istriku. Aku merasa kebingungan. Dan akhirnya aku terdiam hanya memegangi istri yang dari tadi mengejan sambil menutup mata.

Mata bulatnya menahan sakit, warga putih berubah semuanya menjadi merah. Terlihat jelas garis-garis merah di matanya. Secara kasat mata, warna yang bisa kulihat hanya hitam dan merah.

Meskipun sudah tahu teori bahwa memejam mata adalah hal yang tidak diperbolehkan karena akan mengganggu peredaran darah di mata. Tapi fakta tidak sesuai dengan teori. Rasa sakit yang begitu dalam membuatnya lupa akan ilmu yang dipelajarinya.

Sejurus kemudian, istriku yang mengejan terus menerus membuat badannya secara otomatis bergeser ke kanan. Tepat ke arah bidan yang membuat mentalnya hancur lebur. Refleks tangannya pun menggenggam tangan bidan yang membuatnya berkata pedas,

“Kalau tiga kali gak bisa mengejan, langsung SC aja!” emosinya sudah tidak tertahan.

Padahal sebenarnya aku dan dokter pun terkena cengkeraman istriku. Tapi entah kenapa dia tidak sabar menghadapi momen paling besar untuk kami.

Aku masih ingat sekali dua hari sebelumnya kami mengikuti seminar tentang kehamilan di  Rumah Sakit tersebut. Sang pembicara, dokter senior di Rumah Sakit itu, menyebutkan ada empat faktor utama jika menginginkan persalinan yang normal.

Pertama, istrinya sabar.

Dua, suaminya sabar.

Tiga, dokternya sabar.

Empat, bidannya sabar.

Keempat faktor tersebut yang membuat persalinan Anda akan berhasil. Keberhasilan kala itu berarti persalinan impian semua istri. Ya, persalinan normal. Aku sangat begitu yakin TIDAK ADA ISTRI YANG INGIN MELAHIRKAN SC.

Alhamdulillah istriku sabar menunggu sepuluh jam sampai bukaannya lengkap. Aku pun mencoba menjadi suami yang sabar dan tidak macam-macam selama persalinan. Dokter sudah tidak diragukan lagi kebaikannya. Kurang lebih lima belas kali control kami pun merasakan kenyamanannya.

Namun ada satu orang lagi yang belum kita kenal. Bidan yang akan menangani persalinan di Rumah Sakit sejatinya tidak bisa kita pastikan. Bagaimana karakternya? Pelayanannya seperti apa? Dan SABAR atau tidaknya tidak ada yang tahu.

Apalagi kalau misalkan bidan itu kerjanya shift. Kita gak bakal tahu siapa yang akan menangani istri kita. Benar kan? Beruntung jika bidannya telaten dan sabar. Coba kalau tidak? Itulah yang sedang saya alami.

Saya sangat miss dan melupakan faktor keempat. Ternyata salah satu saja tidak sabar maka jangan harap atmosfer persalinan bisa mendukung lahiran normal. Bisa-bisa seperti neraka dan seakan mimpi buruk yang ingin segera berakhir.

Satu kali mengejan tidak berhasil. Dua kali mengejan juga belum berhasil. Ketiga kalinya pun tangan istri masih refleks mencubit tanganku dan tangan si bidan itu. Kondisi seperti itu sangat mustahil untuk istri bisa berhasil melahirkan normal.

Kalian tahu? Sang Bidan yang luar biasa itu tidak banyak omong lagi. Dia langsung pergi ke meja administrasi dan mengajakku sambil berkata,

“Bapak, ayo sekarang sama saya siapkan administrasi, kamar, dan surat persetujuan untuk operasi cesar. Bapak urus ke bagian kamar untuk menyiapkan ruang operasi.”

Jangan ditanya seberapa juteknya dia. Kalian kesal kah? Aku lebih dari itu.

Sayangnya aku lemah saat itu. Tepatnya aku berada dalam jembatan kegalauan. Bereaksi dengan amarah yang meledak-ledak tetapi merusak suasana persalinan. Atau menerima dengan mengikuti prosedur dan memercayakan sepenuhnya kepada mereka yang berpengalaman.

Aku berjalan dengan tatapan kosong menuju meja bidan. Surat sudah dipegang. Tidak ada satu patah kata pun yang terucap. Hanya raga saja yang bergerak mengurus administrasi dan tektek bengeknya.

Singkat cerita setelah aku membereskan administrasi, aku langsung menuju ruang operasi. Dengan segala pertimbangan yang ada, aku tidak bisa menemani istri di ruang operasi.

“Bapak yakin akan masuk ruang operasi?”

“Iya.”
“Yaudah pakai baju ini dan perlengkapannya”

Baju, celana, dan tutup kepala yang mirip dengan perawat pun sudah terpasang rapi di badan yang sudah hilang raganya.

Cukup lama menunggu dan tiba-tiba suara jeritan anakku langsung terdengar dari luar.

Apa benar itu anakku? Katanya aku bakal nemenin istriku.

Antara yakin dan tidak tapi dari balik pintu operasi, perawat pun langsung menghampiriku dengan membawa bayi mungil yang lucu dan sontak langsung berkata,

“Maaf, Pak. Tadi saya gak bisa bikin bapak masuk ke ruang operasi karena khawatir pingsan.”

Aku sudah tidak peduli apa alasan kenapa tidak diperbolehkan masuk. Yang jelas buah hatiku sudah ada di depan mata.

Bayi putih yang dari tadi menangis tiba-tiba diam setelah masuk ke kotak inkubator. Adzan menjadi suara yang didengar langsung dari mulutku. Alhamdulillah bayiku sudah lahir ke dunia ini.

Beratnya yang sesuai taksiran dokter, yaitu 3,0 kilogram. Matanya indah dan kulitnya putih kemerahan menambah kebahagiaanku hari ini. Aku sekarang sudah resmi jadi seorang ayah.

Setelah beres dan bisa ditinggalkan, aku pergi menuju istriku yang sudah berbaring lemas di ranjang. Tidak ada yang bisa digerakkan kecuali bagian leher ke atas.

“Terima kasih ya udah berjuang habis-habisan. Anak kita alhamdulillah selamat. Lucu banget. Tadi udah aku adzanin juga kok.”

“Alhamdulillah” jawab istriku pelan.

Dari kejadian itulah aku lebih menyayangi istriku dan aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Aku pun kalian mengalami sepertiku.

Jaga istri kalian baik-baik!

Sayangi mereka.